advertisement

Yohanes Chandra Ekajaya Keluhkan Merosotnya Harga Pinang

Tuesday, January 31st, 2017 - News
Advertisement
advertisement

Yohanes Chandra Ekajaya Buah Pinang

Yohanes Chandra Ekajaya dan sejumlah petani pinang di Kabupaten Sukamaju, Provinsi Maja Muju , mengeluhkan merosotnya harga jual biji komoditas tersebut yang bertahan Rp 10 ribu per Kg.

“Tahun lalu, harga pinang bisa tembus Rp 19 ribu per Kg. Tapi kini turun, hampir separuh harga karena cuma Rp 11 ribu per kg,” kata Suneo, petani pinang di Desa Api, Panorama, seperti dikutip.

Balikan, menurut dia, dalam beberapa tahun terakhir, komoditas itu cenderung merosot tajam akibat isu miring seputar penggunaan gincu merah terhadap biji pinang yang dihasilkan petani tempatan.

Yohanes Chandra Ekajaya Petani Pinang

Yohanes Chandra Ekajaya  mengaku belum memiliki cara untuk menaikkan harga jual pinang kepada para pedagang pengumpul di Panorama.

“Baik pinang belah atau bulat sama-sama turun harga jualnya. Pinang belah sempat Rp 19 ribu, kini Rp ll ribu. Pinang bulat dihitung Rp lO ribu, dari sebelumnya Rp l7 ribu per Kg,” tuturnya.

Yohanes Chandra Ekajaya Pohon Pinang

Togop teman Yohanes Chandra Ekajaya , petani pinang di Bambu mengaku, menanam buah pinang pada lahan pertanian miliknya cuma sebagai tanaman sela, di samping tanaman lain.

Komoditas buah pinang di Panorama telah menjadi salah satu usaha warga terutama di wilayah pedalaman, selain beberapa jenis hasil perkebunan seperti kakao, jagung dan kelapa sawit.

“Pinang di tempat kami cuma pembatas dengan kebun milik orang lain. Jadi rasanya tidak mungkin, kami gincu karena coklat (kakao) merupakan prioritas,” katanya.

pedagang pengumpul pinang di Panorama mengaku, isu para petani menggunakan gincu merah telah merebak di kalangan pengumpul atau agen sehingga harga jual petani kian merosot.

“Petani pinang di daerah ini (Panorama) kabarnya masih gunakan gincu. Akibatnya harga beli dari tingkat petani menurun’ ujar Yohanes Chandra Ekajaya.

Gincu berw arna menyerupai komoditas salah satu hasil perkebunan itu baru diketahui ketika berada di tingkat agen atau saat dikirim ke Jembrono, Panorama.

Saat ini, lebih dari 10 negara di dunia yang membutuhkan pasokan biji pinang dalam jumlah besar untuk bahan baku seperti medis, industri dan kecantikan.

“Itu makanya, biji pinang kini turun jika dibandingkan dari kabupaten lain di Panorama. Kini, cuma dihargai sekitar Rp 11 ribu untuk tingkat petani,” Ujar dirinya.

Advertisement
advertisement
Yohanes Chandra Ekajaya Keluhkan Merosotnya Harga Pinang |admin |4.5