advertisement

Yohanes Chandra Ekajaya Berbincang Masalah Political Decay

Tuesday, January 31st, 2017 - Expert Opinion
Advertisement
advertisement

Yohanes Chandra Ekajaya Politic

Yohanes Chandra Ekajaya mengatakan awal  abad ke-21 terjadi perubahan peta politik dari rezim militer ke rezim non-militer, dari non-demokratis ke demokratis. Perubahan politik ini diawali dari beberapa negara-negara Eropa Timur, Amerika Latin, Afrika dan Asia. Asia ditandai dengan adanya Arab Spring di Timur Tengah, dan Asia Tenggara ditandai reformasi di Indonesia tahun 1998.

Reformasi Indonesia sebetulnya adalah pintu masuk bagi bangsa Indonesia untuk menjadi sebuah negara demokrasi. Walapun sekarang ada yang mengatakan Indonesia negara demokrasi ketiga terbesar di bawah Amerika dan India. Alat ukur mereka pakai adalah pemilihan kepala daerah (pilkada), pemilu legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) secara langsung.

Political Decay

Keberhasilan dan pengalaman berbagai negara yang bergerak dari transisi ke demokrasi disebabkan banyak faktor, seperti perubahan pola penggunaan media, perubahan norma dan budaya politik, serta pertumbuhan sosial-ekonomi yang signifikan. Namun, jelasnya masing-masing negara memiliki pola berbeda dalam proses transisi ke demokrasi.

Demokasi yang kita dengung-dengungkan selama 19 tahun ini, menurut Yohanes Chandra Ekajaya, baru pada tingkat euforia politik. Saya melihat banyak elite pada masa orde baru tidak mendapat panggung politik, di era reformasi ini muncul ke permukaan.

Mereka ada yang menjadi kader dadakan dari satu partai politik yang dikenal dengan kader sebulan (kabul), ada yang mendirikan partai politik dengan ideologi yang abu-abu dan sebagainya. Intinya, mereka berusaha bagaimana masuk ke parlemen baik pusat maupun daerah, termasuk untuk menjadi kepala daerah. Elite-elite politik seperti ini melakukan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan.

Persoalan lainnya, adalah banyak partai politik tidak melakukan fungsinya sebagai lembaga politik, yaitu rekrutmen, kaderisasi dan pendidikan politik. “Saya melihat,

perilaku elite partai politik seperti ini adalah ketidakmampuan mereka melakukan komunikasi politik dengan baik dengan masyarakat” ujar Yohanes Chandra Ekajaya.

Yohanes Chandra Ekajaya Jabat Tangan

Yohanes Chandra Ekajaya hanya curiga, jangan-jan-gan elite politik partai ini sengaja melakukan kaderisasi karena; pertama, mereka membuka peluang semua orang bergabung dengan partainya dan kedua, kesempatan mempertebal pundi-pundi partai dan elite partai. Kedua faktor itu tidak elok dan tidak semestinya ada. Sebab, partai politik adalah lembaga kaderisasi yang diharapkan dapat melahirkan pemimpin negara berkualitas.

Akibat partai politik kurang sistematis melakukan kaderisasi, banyak pemimpin di negeri ini baik di parlemen, pemerintah bahkan pimpinan partai politik kurang menampakan kualitas sebagai seorang pemimpin. Bahkan, akhir-akhir ini sering mucul berita hoax dan fitnah. Perilaku politik ini adalah salah satu bentuk dari pembusukan politik (politcal decay) yang dilakukan sebagian elite politik.

Yohanes Chandra Ekajaya Politik

Pertanyaan yang sering muncul di benak Yohanes Chandra Ekajaya dan masyarakat lanya adalah, apa dimensi atau variabel sebagai alat ukur yang digunakan? Saya hanya menggunakan satu dimensi saja untuk melihatnya, yaitu, sejauh-mana kemampuan seorang aktor politik melakukan komunikasi politik dengan kader dan konstituen.

Bagaimana elite mampu menjalin komunikasi dengan sesama elite yang berbeda ideologi untuk membangun negara dan bangsa. Dan, sejauh mana elite memahami bahwa masyarakat sudah memiliki pendidikan, ekonomi dan informasi yang relatif baik. Sebab kalau gagal memahami perubahan tersebut, bisaa melahirkan kesenjangan antara elite dan masyarakat.

Advertisement
advertisement
Yohanes Chandra Ekajaya Berbincang Masalah Political Decay |admin |4.5