advertisement

Produksi Makanan Ringan Jual di Hotel

Thursday, April 20th, 2017 - Bisnis
Advertisement
advertisement

PULUHAN perempuan terseragam biru memenuhi aula Disnakertrans Kaltim. Sebuah meja besar mereka kerubungi. Di atasnya terjejer piring-piring makanan ringan. Satu persatu, makanan kemudian dimasukkan ke dalam plastik putih jernih. Tak lama, jadilah, makanan berbungkus yang mereka sebut Cimi-cimi.

RABU (19/4) kemarin, Disnakertrans Kaltim menggelar pelatihan kepada penyandang disabilitas yang ada di Samarinda. Pesertanya didominasi penyandang disabilitas tunarungu maupun tunawicara. Meski disabilitas, tak tampak kesulitan yang mereka hadapi dalam proses packaging makanan ringan tersebut.

Tribun mengamati beberapa proses pengemasan kue yang dilakukan para disabitas tersebut. Beberapa saling bantu. Misalnya, peserta tunawicara berdampingan kerja dengan tunarungu. Ketika melakukan proses, tunarungu kemudian memberikan arah-

an kepada peserta tunawicara. Pun demikian, tunawicara ikut memberikan arahan kepada tunarungu menggunakan isyarat tangan kepada peserta lain. “Ini,” ujar salah satu penderita disabilitas tunarungu, saat mencontohkan cara memasukkan makanan ke dalam kemasan.

Makanan Ringan

Pun demikian dengan beberapa pegawai Disnakertrans yang juga ikut melakukan hal yang sama. Nurha-sanah, misalnya, tak banyak bicara saat ia menjelaskan cara menggunting kemasan sehingga terlihat cantik. Tangannya saja yang terus ia gerakkan, sambil terus mencontohkan, bagaimana teknik menggunting kemasan. “Mereka lebih suka diajari menggunakan gerakan,” ujar Nurhasanah.

Hal yang sama juga diakui Safariyah, salah satu pendamping penyandang disabiltas yang ikut pelatihan pengemasan produk tersebut. Ia menjelaskan, kini beberapa penyandang disabilitas sudah bisa menghasilkan beberapa produk makanan yang kerap mereka jual di beberapa tempat.

“Kemarin, kami ada menjual di berbintang Samarinda. Semuanya dihasilkan penyandang disabilitas. Mulai dari kue wajik, kacang telur, wingko, kue kanji, hingga com flakes. Meski disabilitas, mereka lebih terampil ketika diajari,” ucapnya.

Terbatasnya kemampuan mereka juga disebut Safariyah, bukan alasan mereka untuk menghasilkan produk. “Itu bukan masalah. Kualitas kue buatan para penyandang disabilitas ini juga banyak yang memesan. Itulah mengapa kami ikut pelatihan lagi.

Ini mendekati Lebaran, sehingga nanti mereka siap jika harus memproduksi banyak kue. Saat ini ada puluhan penyandang disabilitas di PPDI (Persatuan penyandang disabilitas) Kaltim yang sudah mampu bekerja sebagai produsen kue,” katanya.

Fathul Halim, Kepala Disnakertrans Kaltim ikut menyokong adanya produses-produsen kue yang berasal dari disabilitas tersebut. “Memang yang kami undang adalah sebagian besar yang sudah menghasilkan produk.

Kami berikan pengarahan untuk pengemasan dengan harapan agar produk-produk mereka bisa dijual ke supermarket serta toko-toko besar hingga luar kota,” ucapnya.

Dalam pelatihan tersebut, ada dua jenis pengemasan yang diberikan Disnakertrans melalui instruktur yang didatangkan dari Disperingdangkop Provinsi Kaltim. “Kami berikan pelatihan selama enam jam. Satu jam pertama untuk teori, dan lima jam berikutnya adalah pelatihan dengan langsung melakukan pengemasan. Pengemasan pertama adalah menggunakan media kerta, sementara pengemasan kedua menggunakan media plastik,” ucap jamil, instruktur dari Disperindangkop Kaltim.

Advertisement
advertisement
Produksi Makanan Ringan Jual di Hotel |admin |4.5