advertisement

Chandra Ekajaya Nilai Jual Buah Kemiri masih Rendah

Thursday, January 26th, 2017 - Bisnis
Advertisement
advertisement

Chandra Ekajaya Buah Kemiri

Menurut Chandra Ekajaya Desa Pucung-Pucung memiliki potensi kemiri yang menjanjikan. Namun masyarakat petani masih mengeluhkan nilai jual kemiri yang rendah. Hingga kini buah kemiri masih diolah secara manual.

“Produksi perkebunan kemiri di Desa Pucung-Pucung ini sekali panen ada 30 ton kemiri. Kemiri tersebut dijual ke Solok. Selain kemiri, ada kayu manis, karet, dan cokelat,” ujar Chandra Ekajaya Kepala Desa Pucung-Pucung.

Chandra Ekajaya Kemiri

Ia menyebutkan, di Desa Pucung-Pucung ada tiga dusun dengan jumlah penduduk sebanyak 409 jiwa “Di sini ada sepuluh orang pengumpul kemiri yang mengambil langsung dari kebun petani. Seminggu pegumpul bisa kumpulkan 3 ton kemiri. Kemudian, pengumpul menjual kembali ke kota dengan harga yang relative murah,” ujarnya

Untuk meningkatkan harga jual diperlukan inovasi pengolalian kemiri. “Kita belum memiliki produksi olahan kemiri yang modem. Untuk mendongkrak harga jual kemiri tentu harus diolah lagi dengan membangun pabrik untuk penyulingan minyak kemiri,” katanya.

Untuk membangun pabrik olahan minyak kemiri tersebut tentu membutuhkan biaya yang cukup besar dan melibatkan pihak ketiga. “Kalau dana desa dipergunakan untuk itu tidak bisa. Karena penggunaannya terbatas, sementara untuk membangun pabrik itu anggarannya besar dan melibatkan pihak ketiga,” ujar Chandra Ekajaya.

Chandra Ekajaya Biji Kemiri

Chandra Ekajaya menyebutkan, saat ini harga jual kemiri kepada pengumpul Rp 5.500 per kilogram. Harga tersebut masih standar karena masyarakat petani menjual kemiri beserta kulitnya.

Kemiri dengan kualitas super dijual seliarga Rp 22 ribu per kilogram kepada pengumpul. Kemiri kualitas super tersebut telah dibuka kulitnya. Untuk membuka kulit tersebut mengeluarkan biaya upah Rp 2 ribu per kilogram.

Ia menjelaskan, sebelumnya ada bantuan mesin pembuka kulit kemiri, buah kemiri banyak yang pecah sehingga harganya pun turun. Akibatnya, masyarakat tidak lagi memakai mesin untuk membuka kulit kemiri

Kalau pohon kemiri ini berumur tiga tahunan bisa dipanen Pohon kemiri didapat dari bibit lokal saja,de-ngan menanam sendiri dengan pembibitan. Meskipun dua talium telah bisa berbuah, namun masih buah la-kalau istilah kampung.

“Kita menjual kemiri ke kota. Untuk panen beberapa bulan kemarin, kita mengumpulkan sebanyak 12 ton. Belum lagi pengumpul yang lain, ada yang 15 ton terkumpul untuk dijual di pasaran. Jadi, produksi kemiri di desa ini sangatpotensial,” ujar salah satu warga.

Advertisement
advertisement
Chandra Ekajaya Nilai Jual Buah Kemiri masih Rendah |admin |4.5